Dua Unit Dapurlap, 2.000 Porsi Sehari
Kendaraan Dapurlap Brimob bukan sekadar truk dengan kompor. Ia dilengkapi sistem gas terkompresi, tangki air bersih, dan peralatan masak modular yang bisa beroperasi di jalan rusak atau tanah longsor. "Kami kerahkan dua unit Dapurlap dan satu kendaraan distribusi khusus," kata Komandan Satuan Brimob Polda Sulteng, AKBP Andi Saputra, saat ditemui di depan tenda dapur. Setiap unit menghasilkan hingga 2.000 porsi sehari—cukup untuk 800–1.000 orang.Banyak pengungsi tak punya kompor, beras, atau bahkan air bersih. Pasar tutup. Listrik padam. Jalan utama terputus. Brimob mengisi celah itu: dua kali sehari, setiap keluarga menerima nasi hangat, lauk bergizi, dan air minum. "Anak-anak saya baru makan nasi panas hari ini. Sejak gempa, kami cuma makan mi instan," ujar Siti, ibu rumah tangga yang rumahnya rata dengan tanah.
Warga Masak Bersama, Brimob Antar Sampai Depan Tenda
Dapur lapangan ini hidup karena gotong royong—bukan hanya perintah dari atas. Pemuda desa bergiliran mencuci sayur, mengemas kotak makanan, dan mengantar ke tenda-tenda lansia. Beberapa relawan membawa makanan dengan motor trail ke dusun terisolasi. "Kami di sini untuk membantu, tapi tanpa tangan warga, makanan tidak sampai ke ujung desa," kata AKBP Andi.Di samping dapur, tim medis Brimob berjaga. Mereka memeriksa suhu anak-anak, memberi oralit, dan mendeteksi gejala awal diare atau ISPA. "Kalau bantuan lambat, gizi buruk bisa datang dalam tiga hari. Dapur ini menyelamatkan waktu," kata Bu Rina, bidan desa yang turut memantau distribusi. Data BPBD Sigi mencatat lebih dari 5.000 jiwa mengungsi akibat gempa 6,2 SR yang merusak 1.247 rumah.
Bensin Tipis, Jalan Putus, Tapi Motor Trail Masuk
Logistik tetap tegang. Stok bahan bakar untuk Dapurlap terbatas. Dua jalur utama ke dusun Lembah dan Tanjung Putih terputus longsor. Personel Brimob harus berjalan kaki 4 kilometer atau naik motor trail melewati jalan setapak berlumpur untuk mengantarkan makanan dan obat. "Kami siagakan lima personel khusus droping lewat jalur alternatif—mereka bawa makanan, air, dan perlengkapan dasar dalam ransel," jelas AKBP Andi.Warga berharap dapur tetap beroperasi minimal dua pekan—sampai masa tanggap darurat resmi berakhir. Sebab, bantuan dari pusat belum lancar: prosedur verifikasi, pengiriman terhambat birokrasi, dan alokasi logistik belum merata. "Brimob tidak menunggu surat. Mereka datang, buka tenda, nyalakan kompor—itu bukti polisi benar-benar dekat dengan rakyat," kata H. Amir, tokoh masyarakat setempat.
Dapur Lapangan Bukan Insiden—Ini Prosedur Standar
Keberhasilan di Sigi bukan kebetulan. Setiap Satuan Brimob daerah wajib memiliki Dapurlap dalam inventaris alutsista. Operasi seperti ini sudah termasuk dalam SOP tanggap bencana. "Ini bukan inisiatif spontan. Ini pelatihan rutin, simulasi tiap tiga bulan, dan uji coba mobilisasi dalam 90 menit," kata Brigjen Pol. Ahmad, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri.
Namun, realitas masih menantang. Beberapa unit Dapurlap di daerah sudah berusia 12 tahun—mesin sering overheat, tangki air bocor, dan sistem gas butuh kalibrasi ulang. "Sigi harus jadi momentum evaluasi nasional: peremajaan Dapurlap bukan prioritas tambahan—tapi kebutuhan operasional dasar," tegas Brigjen Ahmad. Di tengah gempa susulan yang masih mengguncang, api di dapur lapangan Brimob tetap menyala—menghangatkan perut, menenangkan anak-anak, dan mengingatkan: kemanusiaan tak pernah menunggu izin.
