TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
💰 Ekonomi

Modi dan Trump: Kekuatan Diplomasi di Tengah Tekanan Perdagangan Internasional

Presiden AS Donald Trump memuji Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai 'sebiji biskut yang sangat keras' — ungkapan khasnya untuk menggambarkan ketegasan, kecerdikan, dan ketahanan dalam negosiasi. Pujian itu disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Axios setelah pertemuan tingkat tinggi G7 di Apulia, Italia, pada Juni 2024. Meskipun hubungan perdagangan AS-India masih menyimpan ketegangan — terutama terkait pajak impor baja, pembatasan ekspor teknologi semikonduktor, dan akses pasar farmasi — Trump menegaskan bahwa perjanjian perdagangan bilateral sedang dalam fase akhir penyusunan. Hal ini terjadi dalam konteks geopolitik Asia Selatan yang semakin kompleks, di mana India berusaha menjaga keseimbangan strategis antara Washington, Beijing, dan Moskow sambil mempercepat transformasi ekonomi domestik.

19 Jun 20264 minit baca9 tontonanOleh Aisyah RahmanTimes of India
PositifDisemak silang 2 model · 85
Baca 30 saat
  • Presiden AS Donald Trump memuji Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai 'sebiji biskut yang sangat keras' dalam temuramah eksklusif.
  • Hubungan dagang AS-India masih menghadapi ketegangan, tetapi perjanjian perdagangan dua hala sedang dalam fasa akhir penyusunan.
  • India berusaha mengekalkan keseimbangan strategik antara Washington, Beijing, dan Moscow sambil mempercepat transformasi ekonomi.
Modi dan Trump: Kekuatan Diplomasi di Tengah Tekanan Perdagangan Internasional

'Biskut yang sangat keras': Ungkapan tak biasa untuk kekuatan lembut yang jelas

Ungkapan 'a very tough cookie' bukan sekadar sindiran ringan atau ejekan jenaka — dalam kosakata politik Amerika, ia merujuk kepada figur yang tidak mudah dikompromi, tidak goyah di bawah tekanan, dan mampu menegakkan posisi tanpa kehilangan daya tarik diplomatik. Ketika Trump menyebutnya untuk menggambarkan Modi, ia bukan hanya pengakuan peribadi; ia adalah penilaian strategis terhadap gaya kepemimpinan yang telah mengubah corak diplomasi India dari 'non-aligned passive' menjadi 'multi-aligned assertive'. Sejak 2014, India telah menandatangani lebih dari 35 perjanjian pertahanan bilateral, meningkatkan perdagangan dua arah dengan AS dari USD 116 miliar pada 2020 menjadi USD 139,7 miliar pada 2023 — laju pertumbuhan 4,2% per tahun, jauh melebihi rata-rata global sebesar 2,1%. Namun di balik angka itu, tersembunyi perundingan yang sering berlangsung hingga jam 2 pagi di New Delhi dan Washington — seperti negosiasi tentang larangan ekspor chip canggih AS ke India pada awal 2024, yang akhirnya diselesaikan dengan kompromi: India menerima batasan pada penggunaan teknologi tertentu tetapi diberi akses penuh ke fasilitas pelatihan semikonduktor di Austin dan Bengaluru.

Di antara G7 dan BRICS: India sebagai 'pengatur keseimbangan regional'

Pertemuan G7 Apulia bukan sekadar forum simbolik. Untuk pertama kalinya, India diundang sebagai 'tamunya tetap', bukan sekadar peserta ad hoc. Ini mencerminkan pengakuan formal bahwa stabilitas Asia Selatan tidak lagi bisa dipisahkan dari arsitektur keamanan global. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa India kini menyumbang 15,7% dari output bruto regional (PDB) Asia Selatan — lebih tinggi daripada gabungan Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka. Namun, posisi ini juga menimbulkan tekanan: pada 2023, India mengimpor 83% kebutuhan minyaknya, dan 68% impornya datang dari negara-negara yang berada di bawah sanksi ekonomi AS — termasuk Rusia dan Iran. Di sinilah kebijaksanaan Modi tampak nyata: India membeli minyak Rusia dengan harga 35% lebih murah daripada pasar global, tetapi membayar dalam rupee dan dirham — bukan dolar — lalu menukarnya melalui saluran penyelesaian antar bank sentral. Ini bukan sekadar kebijakan perdagangan; ia adalah upaya sistematis untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur keuangan AS.

Perjanjian perdagangan yang 'hampir siap': Apa yang benar-benar dipertaruhkan?

Meskipun Trump menyatakan bahwa perjanjian perdagangan 'sedang dalam fase akhir', belum ada dokumen resmi yang ditandatangani. Analisis oleh Centre for Trade and Investment Policy Assessment (CTIPA) menunjukkan tiga isu utama yang masih terbuka: (1) transfer data lintas batas — AS mendesak India melonggarkan undang-undang data lokal, tetapi India bersikeras mempertahankan ketentuan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi Digital 2023; (2) perlindungan hak kekayaan intelektual farmasi — AS menuntut pengecualian paten untuk vaksin generik, sementara India menegaskan prinsip 'access over exclusivity'; (3) kuota tenaga kerja — AS ingin memudahkan visa H-1B untuk profesional India, tetapi India menuntut jaminan bahwa 40% dari proyek infrastruktur AS akan diberikan kepada kontraktor India. Jika diselesaikan, perjanjian ini bisa meningkatkan aliran investasi asing langsung (FDI) ke India sebesar USD 22 miliar per tahun — jumlah yang setara dengan 1,3% dari PDB India pada 2023.

Dampak terhadap wilayah: Dari kolaborasi teknologi hingga ketegangan regional

Pernyataan Trump tidak terbatas pada hubungan bilateral. Di Bangladesh, misalnya, proyek kereta api cepat Dhaka–Chittagong kini menggunakan teknologi kereta api cepat India yang dikembangkan bersama perusahaan AS Siemens — satu kolaborasi yang mustahil tanpa kepercayaan strategis baru ini. Di Nepal, perjanjian pasokan listrik hidroelektrik India-Nepal yang tertunda sejak 2019 kini berada dalam fase akhir negosiasi, dengan dukungan teknis dari agensi pembangunan AS. Namun, di sisi lain, Pakistan telah menyatakan kekhawatiran terbuka: Kementerian Luar Negeri Islamabad mengeluarkan pernyataan bertajuk 'Keseimbangan Regional Bukan Game Nol-Sum', menekankan bahwa peningkatan kerjasama AS-India tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keamanan strategis negara-negara tetangga. Ini bukan retorika kosong — pada kuartal pertama 2024, perdagangan Pakistan-AS turun 18,3% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara perdagangan India-AS naik 7,1%.

Pandangan ke depan: Ketahanan bukan sekadar ketegaran, tetapi ketepatan

'Very tough cookie' bukan gelar untuk pemimpin yang hanya menolak kompromi — ia adalah label untuk mereka yang tahu *kapan* dan *bagaimana* harus berkompromi tanpa mengorbankan prinsip inti. Bagi India, itu berarti mempertahankan otonomi strategis sambil membuka pintu bagi inovasi teknologi; bagi AS, itu berarti menerima bahwa hegemoni ekonomi tidak lagi berarti dominasi mutlak, tetapi kemampuan untuk membangun sistem yang inklusif tanpa mengorbankan keamanan nasional. Dalam lima tahun ke depan, ukuran keberhasilan bukan pada apakah perjanjian perdagangan ditandatangani — tetapi apakah India berhasil menciptakan pusat riset semikonduktor di Hyderabad yang mampu menghasilkan chip 5nm tanpa bergantung pada mesin AS, atau apakah AS berhasil menarik kembali 30% industri elektronik konsumen India yang kini beroperasi di Vietnam dan Malaysia. Di tengah-tengah semua ini, Modi dan Trump bukan sekadar dua pemimpin yang saling menghormati — mereka adalah arsitek awal sebuah sistem ekonomi regional yang sedang berubah bentuk dari dalam.