TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🌍 Dunia

VidDaCom menjadi pengendali pabrik lumpur lokal pertama Brunei

VidDaCom Sdn Bhd akan menjadi perusahaan layanan minyak dan gas lokal pertama di Brunei yang memiliki dan mengoperasikan Pabrik Lumpur Cari (LMP) dengan kapasitas 23.000 tong. Pabrik tersebut, yang pembangunannya dijadwalkan dimulai dalam beberapa minggu, akan menyediakan cairan bor untuk mendukung produksi awal negara melalui kemitraan strategis dengan SLB dan BSP — sebuah langkah besar dalam partisipasi wirausaha lokal di sektor yang selama ini dikuasai pemain internasional.

21 Jun 20263 minit baca9 tontonanOleh Rajesh KumarBizBrunei
PositifDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • VidDaCom menjadi pengendali loji lumpur tempatan pertama Brunei
  • Loji lumpur berkapasiti 23,000 tong akan membekalkan bendalir gerudi untuk sokong pengeluaran huluan negara
  • Kerjasama strategik dengan SLB dan BSP membuka ruang bagi syarikat tempatan naik ke lapisan lebih tinggi dalam rantaian bekalan industri
VidDaCom menjadi pengendali pabrik lumpur lokal pertama Brunei

Imej: Imej: Bernard Spragg (CC0) via Openverse

Lokasi kosong di luar Bandar Seri Begawan akan berdebar dalam beberapa minggu lagi — bukan dengan denyut nadi, tetapi dengan suara pompa dan suara mesin berat. Di situlah Pabrik Lumpur Cari (LMP) pertama milik perusahaan lokal akan muncul: sebuah titik balik dalam industri minyak dan gas Brunei.

VidDaCom Sdn Bhd, perusahaan layanan minyak dan gas lokal, akan mencatat sejarah sebagai pengelola pabrik lumpur pertama sepenuhnya dimiliki warga negara. Pabrik yang dibangun di kawasan industri dekat Bandara Internasional Brunei memiliki kapasitas tangki lumpur 23.000 tong — cukup untuk mendukung berbagai sumur minyak secara bersamaan.

"Ini bukan hanya pabrik. Ini adalah bukti bahwa warga lokal mampu menguasai segmen teknis tinggi — bukan hanya sebagai subkontraktor, tapi sebagai pemilik dan pengelola penuh," kata Direktur Eksekutif VidDaCom, Awang Haji Mohammad bin Ali, ketika diwawancarai di kantornya pekan lalu. Ia menekankan bahwa proyek ini membuka ruang bagi perusahaan lokal naik ke lapisan lebih tinggi dalam rantai pasok industri.

Kemitraan dengan raksasa global, bukan bergantung padanya

Keberhasilan VidDaCom dibangun atas kemitraan strategis — bukan ketergantungan. Perusahaan bekerja sama dengan SLB (Schlumberger), raksasa layanan minyak global, dan BSP (Brunei Shell Petroleum) sebagai mitra teknis dan pelanggan utama. SLB menyediakan teknologi cairan bor terkini, sementara BSP menjadi pembeli utama lumpur yang dihasilkan.

"Kami yakin VidDaCom bisa menjadi penyedia lokal yang kompetitif. Dukungan teknis dari kami memastikan pabrik ini beroperasi sesuai standar keselamatan dan kualitas internasional," ujar juru bicara SLB dari kantornya di Houston, melalui panggilan video.

Lumpur bor — atau cairan bor — bukan bahan biasa. Ia mendinginkan mata bor, mengangkut serpihan batuan ke permukaan, dan menstabilkan dinding sumur saat pengeboran. Keterlambatan atau kegagalan pasokan lumpur berkualitas bisa menghentikan operasi dan menimbulkan kerugian jutaan ringgit.

100 pekerja di fase konstruksi, 30 pekerja tetap — semua lokal

Konstruksi pabrik ini diharapkan menyerap 100 pekerja lokal selama fase konstruksi, dan 30 pekerja tetap ketika operasi dimulai. VidDaCom berkomitmen penuh terhadap tenaga kerja lokal, dengan program pelatihan teknis bersama SLB. "Kami tidak ingin anak muda Brunei hanya menjalankan mesin. Kami ingin mereka memahami kimia di balik lumpur, lalu merancang formulasi sendiri," kata Haji Mohammad.

Ahli ekonomi lokal, Dr. Zainal bin Haji Sulaiman dari Universitas Brunei Darussalam, menyebut langkah ini sebagai pemicu penting bagi ekosistem layanan minyak dan gas lokal. "Selama ini, perusahaan lokal terbatas pada pasokan alat kecil atau layanan pendukung rendah. Sekarang, mereka masuk ke segmen strategis — di mana nilai tambah, efisiensi, dan kontrol teknis benar-benar berarti. Ini mengurangi ketergantungan pada kontraktor asing dan memperkuat daya tahan ekonomi negara."

Bukan akhir perjalanan — tapi awal yang berani

Namun, jalan ini tidak lurus. Industri minyak dan gas selalu menghadapi ketidakpastian harga, volatilitas permintaan, dan tekanan biaya operasi. VidDaCom sadar risiko itu. "Kami tidak meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Selain BSP, kami sudah mulai berdiskusi dengan perusahaan minyak lain yang aktif di perairan Brunei — termasuk operator independen," jelas Haji Mohammad sambil menunjukkan rencana pemasaran perusahaan.

Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Energi dan Industri melalui inisiatif penguatan vendor lokal. Menteri Energi, Yang Berhormat Dato Seri Setia Haji Matsatejo bin Haji Salleh, sebelumnya menegaskan bahwa pengembangan vendor lokal bukan sekadar soal kontrak — tapi soal kedaulatan ekonomi dan ketahanan sektor strategis.

Pembangunan dijadwalkan dimulai dalam minggu-minggu mendatang, dan pabrik diharapkan selesai dalam waktu 18 bulan. Ketika beroperasi penuh, VidDaCom tidak hanya menyediakan cairan bor — ia menjadi bukti nyata: wirausaha lokal bukan hanya mampu hadir, tapi mampu memimpin.

"Kami bukan penonton lagi. Kami pemain. Dan kami bermain di pentas sendiri — dengan aturan, keterampilan, dan keyakinan sendiri," kata Haji Mohammad, senyumnya tenang tapi tegas.