1. Keutamaan Puasa 'Asyura
Puasa pada 10 Muharram adalah amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda, "Puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa setahun yang lalu." (Riwayat Muslim). Namun, kebanyakan ulama menyarankan untuk menambah puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya (9 dan 11 Muharram) agar tidak sama dengan amalan orang Yahudi. Puasa ini bukan wajib, tetapi pahalanya sangat besar. Bayangkan, hanya dengan satu hari berpuasa, dosa setahun bisa diampuni.
2. Peristiwa Bersejarah di Balik 10 Muharram
10 Muharram bukan hanya soal pahala puasa. Ia juga mengingatkan kita kepada beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam. Di antaranya:
- Kisah Nabi Musa AS: Menurut riwayat, pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel dari kejaran Firaun. Sebagai tanda syukur, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut, dan Rasulullah SAW kemudian menganjurkan umatnya untuk ikut berpuasa.
- Peristiwa Karbala: Bagi umat Islam Syiah, 10 Muharram adalah hari berkabung atas syahidnya cucu Rasulullah, Imam Husain bin Ali, beserta keluarganya di Padang Karbala. Peristiwa ini menjadi simbol perjuangan melawan kezaliman dan sering diperingati dengan majlis ta'ziah dan ratapan.
3. Amalan-Amalan Sunnah Selain Puasa
Selain puasa, ada beberapa amalan lain yang dianjurkan pada 10 Muharram. Di antaranya:
- Memperbanyak Sedekah: Memberi makan kepada fakir miskin atau anak yatim. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang meluaskan belanja kepada keluarganya pada hari 'Asyura akan mendapat keberkatan rezeki sepanjang tahun.
- Melakukan Amal Kebaikan Lain: Seperti solat sunnah, membaca al-Quran, dan zikir. Meskipun tidak ada ibadah khusus selain puasa, hari ini tetap menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- Mandi Sunnah: Ada juga amalan mandi pada hari 'Asyura yang dianggap sunnah oleh sebagian ulama, meskipun tidak ada dalil yang kuat. Jadi, hati-hati dalam mengamalkan sesuatu yang sumbernya tidak jelas.
4. Peringatan untuk Tidak Melampaui Batas
Setiap kali menjelang 10 Muharram, kita sering terpapar berbagai amalan yang dikatakan "sunnah" atau "bidah". Penting bagi kita merujuk kepada sumber yang sahih. Sebagai contoh, amalan seperti memukul dada, melukai diri, atau berkabung secara berlebihan tidak dianjurkan dalam Islam dan bahkan dilarang karena menyerupai amalan jahiliyah. Fokuslah pada amalan yang jelas dalilnya, seperti puasa dan sedekah. Jangan sampai semangat menyambut 'Asyura membawa kita kepada perkara yang bertentangan dengan syariat.
5. Keragaman Perayaan di Nusantara
Di Malaysia, Indonesia, dan daerah Nusantara, 10 Muharram juga dirayakan dengan cara yang unik. Beberapa tradisi yang terkenal:
- Bubur Asyura: Hidangan istimewa berupa bubur yang dimasak dengan berbagai bahan seperti sayur-sayuran dan daging, lalu dibagikan kepada tetangga dan fakir miskin. Tradisi ini melambangkan rasa syukur dan kebersamaan.
- Majlis Bacaan Yasin dan Tahlil: Banyak masjid dan surau mengadakan bacaan Yasin serta tahlil khusus pada malam 10 Muharram, diikuti dengan ceramah agama.
- Pawai dan Kirab: Di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa, ada tradisi pawai obor atau kirab budaya yang menggabungkan unsur Islam dan lokal. Namun, pastikan elemen-elemen tersebut tidak bertentangan dengan aqidah.
Penutup
10 Muharram bukan sekadar tanggal merah di kalender. Ia adalah hari yang penuh dengan pelajaran: tentang rasa syukur, pengorbanan, dan keadilan. Meskipun kita dianjurkan untuk berpuasa dan bersedekah, jangan lupa untuk memahami pesan di balik peristiwa 'Asyura—baik dari kisah Nabi Musa maupun tragedi Karbala. Manfaatkan kesempatan ini untuk muhasabah diri dan memperbaiki amalan. Semoga kita semua mendapatkan keberkatan dan pengampunan di hari yang mulia ini.
