TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
Olahraga

Declan Rice Bermain dengan Sakit Saraf Hamstring Sejak Desember — Sebut Jadwal Pertandingan 'Tidak Masuk Akal'

Declan Rice mengungkapkan dia bermain dengan rasa sakit saraf di bagian atas hamstring sejak Desember lalu, dan dikeluarkan pada menit ke-72 dalam kemenangan 4-2 Inggris atas Kroasia dalam pertandingan pembuka Piala Dunia 2026. Ia menyebut penggantian itu sebagai langkah bijak, dan menekankan pentingnya istirahat sebelum pertandingan melawan Ghana di Boston.

21 Jun 20263 minit baca33 tontonanOleh Redaksi MeridianFIFA World Cup 2026
BeratDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Declan Rice bermain dengan kesakitan saraf di hamstring sejak Disember lalu.
  • Beliau dikeluarkan semasa perlawanan England vs Croatia dan menyifatkan penggantian itu sebagai langkah bijak.
  • Rice mengkritik jadual perlawanan yang ketat dan meminta keseimbangan antara komitmen kelab dan negara.
Declan Rice Bermain dengan Sakit Saraf Hamstring Sejak Desember — Sebut Jadwal Pertandingan 'Tidak Masuk Akal'

Declan Rice Bermain dengan Kesakitan Saraf Sejak Natal

Declan Rice mengakui telah mengelola rasa sakit saraf di bagian atas hamstring sejak awal Desember — waktu yang bersamaan dengan perayaan Natal tahun lalu. Pengungkapan ini dibuat setelah ia dikeluarkan pada menit ke-72 dalam kemenangan 4-2 Inggris atas Kroasia di Stadion Wembley, pertandingan pembuka Grup B Piala Dunia 2026. Rasa sakit tersebut juga menyebar ke punggung bawah, tetapi tidak menghalangi performanya hingga saat penggantian. Rice menyebut keputusan untuk keluar lebih awal sebagai 'bijak', dan menegaskan bahwa ia akan siap sepenuhnya untuk pertandingan berikutnya melawan Ghana di Boston pada Selasa.

Enam Bulan Bermain di Bawah Tekanan Fisik

Rice mengakui rasa sakit itu bukan hal baru — terjadi sejak enam bulan lalu. Namun, rasa sakit itu tidak pernah mengganggu kehadirannya di level klub atau internasional. Sebagai pemain tengah Arsenal, ia telah tampil dalam lebih dari 50 pertandingan sepanjang musim 2025/26: Liga Premier Inggris, Liga Champions, dan kompetisi internasional. Dalam sebuah wawancara langsung, Rice menyebut jadwal pertandingan saat ini sebagai *obscene* — istilah yang ia gunakan tanpa keraguan — sambil meminta keseimbangan yang lebih adil antara komitmen klub dan negara.

Pantauan Ketat Tim Medis Inggris

Tim medis Inggris telah memantau Rice secara terus-menerus sejak ia mulai melaporkan ketidaknyamanan. Gareth Southgate dilaporkan berdiskusi dengan dokter tim sebelum membuat keputusan menggantikannya dengan Jordan Henderson dalam pertandingan melawan Kroasia. Southgate menjelaskan bahwa tindakan itu bersifat pencegahan, bukan reaksi terhadap cedera akut, tetapi upaya mencegah komplikasi jangka panjang. Rice sendiri mengonfirmasi bahwa kombinasi istirahat terkendali dan fisioterapi intensif telah membantu pemulihannya berjalan lancar.

Risiko Strategis dan Harapan untuk Pertandingan Berikutnya

Ketidakhadiran Rice di tengah lapangan bisa memengaruhi kedalaman taktikal Inggris, terutama dalam fase transisi dan penguasaan bola. Namun, skuad masih berada di puncak Grup B dengan tiga poin. Pertandingan melawan Ghana di Boston bukan hanya ujian prestasi — tapi juga penentu jalur menuju babak eliminasi. Pakar olahraga menegaskan bahwa keputusan tentang kesiapan Rice akan menjadi salah satu faktor kritis dalam keberhasilan Inggris di turnamen ini. Isu jadwal pertandingan yang padat juga memicu diskusi luas di kalangan pelatih dan pemain lain, dengan beberapa pihak mendesak evaluasi ulang kalender internasional oleh badan pengelola.

Siapa yang Mengisi Kekosongan Jika Rice Tidak Turun Lapangan?

Rice dijadwalkan menjalani penilaian akhir sebelum pertandingan melawan Ghana. Jika ia tidak diberi lampu hijau, Jude Bellingham atau Conor Gallagher kemungkinan besar akan mengambil alih posisi tengah. Southgate menegaskan bahwa kesejahteraan pemain selalu menjadi prioritas utama — tidak ada tekanan untuk memaksanya bermain jika belum benar-benar pulih. Sementara itu, Rice terus menjalani latihan ringan dan perawatan harian, dengan fokus memastikan kontribusinya tetap signifikan dalam perjuangan Inggris.

Satu Isu yang Lebih Besar Daripada Satu Pemain

Pengalaman Rice bukan kasus pertama. Rodri dan Virgil van Dijk pernah menyampaikan kekhawatiran serupa tentang beban pertandingan yang tidak realistis. Ini bukan soal ketahanan individu, tetapi soal struktur sistemik: kalender olahraga yang terlalu padat, tekanan komersial, dan kurangnya masa istirahat berarti pemain sering dipaksa memilih antara loyalitas dan kesehatan. Masalah ini kini meminta tindakan kolektif — bukan hanya dari FIFA atau UEFA, tetapi juga dari asosiasi pemain, klub, dan pelatih — untuk memastikan kecepatan jangka pendek tidak mengorbankan keberlanjutan jangka panjang.