Seorang pria berusia 45 tahun, Ahmad, tersenyum puas ketika keluar dari klinik diet di Kuala Lumpur. Dalam waktu tiga bulan, berat badannya turun 15 kilogram—sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil.
"Saya mencoba berbagai cara, tetapi Diet Atkins benar-benar efektif," katanya sambil menunjukkan buku catatan makanan yang penuh dengan hidangan tinggi lemak dan rendah karbohidrat.
Asal Usul Diet Atkins
Diet Atkins diperkenalkan oleh Dr. Robert Atkins, seorang kardiologis Amerika, pada tahun 1972. Ia berargumen bahwa konsumsi karbohidrat yang tinggi menyebabkan resistensi insulin dan obesitas. Sebaliknya, diet yang kaya protein dan lemak—dengan pembatasan karbohidrat—dapat memaksa tubuh membakar lemak sebagai sumber energi utama.
Pendekatan ini mendapat sambutan hangat, terutama ketika banyak selebritas mengaku berhasil menurunkan berat badan. Namun, hal ini juga memicu kontroversi di kalangan ahli gizi yang menganggapnya sebagai "diet fad" yang tidak seimbang.
Mekanisme Pembakaran Lemak
Prinsip utama Diet Atkins adalah mengurangi konsumsi karbohidrat secara drastis—biasanya di bawah 20 gram sehari pada tahap awal. Tanpa karbohidrat, tubuh memasuki kondisi ketosis, di mana lemak dipecah menjadi keton untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Pasien seperti Ahmad menemukan bahwa diet ini secara alami mengurangi nafsu makan. "Saya jarang merasa lapar, dan energi saya tetap sepanjang hari," katanya. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa fase awal sering disertai efek samping seperti kelelahan, sembelit, dan bau mulut.
Kritikan dari Ahli
Persatuan Pemakanan Malaysia, melalui Presidennya Prof. Dr. Zainal Arifin, menegaskan bahwa Diet Atkins tidak cocok untuk semua orang. "Diet rendah karbohidrat yang ketat dapat menyebabkan kekurangan serat, vitamin, dan mineral. Hal ini juga meningkatkan beban pada ginjal karena konsumsi protein yang tinggi," katanya dalam wawancara.
Ia menambahkan bahwa penurunan berat badan yang cepat biasanya bersifat sementara. "Ketika seseorang kembali ke pola makan biasa, berat badan akan naik lagi—bahkan mungkin lebih tinggi daripada sebelumnya," jelasnya.
Studi Terbaru
Meskipun ada kritikan, beberapa studi menunjukkan bahwa Diet Atkins bisa memberikan manfaat jangka pendek. Satu studi yang diterbitkan dalam *New England Journal of Medicine* pada 2003 menemukan bahwa peserta yang mengikuti Diet Atkins kehilangan lebih banyak berat badan dalam enam bulan dibandingkan mereka yang mengikuti diet rendah lemak konvensional.
Namun, studi lanjutan menemukan bahwa setelah satu tahun, perbedaan antara kedua kelompok tidak signifikan. Ini menunjukkan bahwa kepatuhan jangka panjang adalah faktor utama, bukan jenis diet itu sendiri.
Keamanan dan Praktik
Bagi mereka yang ingin mencoba Diet Atkins, para ahli menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi terlebih dahulu, terutama bagi individu yang memiliki penyakit ginjal, diabetes, atau tekanan darah tinggi.
"Modifikasi Diet Atkins dengan konsumsi karbohidrat kompleks dalam jumlah sedang mungkin lebih aman dan lebih berkelanjutan," kata Prof. Dr. Zainal.
Ahmad sendiri mengakui bahwa ia merencanakan untuk beralih ke diet seimbang setelah mencapai berat target. "Diet Atkins adalah alat yang efektif, tetapi bukan solusi permanen," katanya sambil tersenyum.
Kesimpulan
Diet Atkins tetap menjadi salah satu diet paling populer di dunia, dengan jutaan pengikut yang mengklaim keberhasilannya. Namun, pertanyaan tentang keamanan dan efektivitas jangka panjang masih belum sepenuhnya terjawab. Bagi setiap individu, pilihan diet harus didasarkan pada kebutuhan kesehatan masing-masing, bukan hanya janji penurunan berat badan yang cepat.
---
*Rujukan: [Atkins diet — Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/Atkins_diet)*
