TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
🌍 Dunia

Laut Perlahan Menelan Desa Nelayan: Ancaman Iklim yang Juga Mengintai Indonesia

Desa Cedeno di Honduras perlahan ditelan laut akibat perubahan iklim—nelayan kehilangan rumah dan mata pencarian. Fenomena erosi pantai ini juga mengancam ribuan desa nelayan di Indonesia, seperti di Demak dan Semarang. Tanpa adaptasi serius, nasib nelayan Indonesia bisa menyusul rekan mereka di Honduras.

21 Jun 20263 minit baca13 tontonanOleh Daniel Tan Wei MingRepublika
BeratDisemak silang 2 model · 62
Baca 30 saat
  • Desa Cedeno di Honduras perlahan ditelan laut akibat perubahan iklim.
  • Erosi pantai mengancam ribuan desa nelayan di Indonesia seperti Demak dan Semarang.
  • Tanpa adaptasi, nasib nelayan Indonesia bisa menyusul rekan mereka di Honduras.
Laut Perlahan Menelan Desa Nelayan: Ancaman Iklim yang Juga Mengintai Indonesia

José Menatap Ombak yang Merenggut Rumahnya

Pagi itu, ombak Pasifik lebih tinggi dari biasanya. José, nelayan berusia 54 tahun dari Desa Cedeno, Honduras, duduk di atas gundukan pasir—sisa reruntuhan rumahnya. "Dulu kamar tidur saya di sana," katanya pelan, menunjuk ke arah laut yang kini bergelora. Dalam lima tahun, garis pantai mundur lebih dari 50 meter. Rumah-rumah kayu yang dulu berjejer rapi kini tinggal puing, hanyut terbawa arus. Cedeno hanya satu dari puluhan desa pesisir Pasifik Honduras yang perlahan ditelan lautan.

Laut yang Tak Kenal Ampun

Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Di Honduras, permukaan air laut naik 4,5 milimeter per tahun—lebih cepat daripada rata-rata global. Badai tropis yang semakin sering dan ganas memperparah erosi. Di Cedeno, seluruh penghidupan warga bergantung pada laut. Tapi justru laut kini menggerogoti mereka. Hasil tangkapan turun karena ikan menjauh ke perairan lebih dingin. Air laut juga merambah tambak udang dan lahan pertanian di belakang desa, membuat tanah asin dan tak subur.

Pemerintah Honduras membangun tanggul dan pemecah ombak. Dana terbatas. Banyak warga memilih pergi—ke kota atau ke dataran lebih tinggi. "Kami tidak punya pilihan lain. Laut tidak bisa dilawan. Kami hanya bisa menghindar," kata seorang tetua desa kepada tim *Republika*.

Indonesia: Seribu Ancaman di Pesisir yang Sama

Apa yang terjadi di Honduras bukan cerita jauh. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia. Lebih dari 80 persen penduduknya tinggal di daerah pesisir. Ribuan desa nelayan di Pantai Utara Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku menghadapi ancaman serupa.

Di Demak, abrasi menggerogoti daratan hingga 10 meter per tahun. Di Semarang, banjir rob makin kerap merendam permukiman. Di Muara Gembong, Bekasi, puluhan rumah nelayan sudah tenggelam—warga terpaksa membangun rumah panggung di atas lumpur.

Data Badan Informasi Geospasial (BIG) menunjukkan lebih dari 2.000 pulau kecil di Indonesia rentan tenggelam akibat kenaikan muka air laut. Jika tak ada mitigasi serius, kawasan pesisir utara Jakarta bisa berada di bawah permukaan laut permanen pada 2050. Bagi nelayan, ancaman itu bukan sekadar kehilangan rumah—tapi juga hilangnya mangrove dan terumbu karang tempat ikan berkembang biak.

Adaptasi yang Tertatih

Berbeda dengan Honduras, Indonesia telah meluncurkan program adaptasi: tanggul laut, rehabilitasi mangrove, dan relokasi permukiman. Namun pelaksanaannya lambat. Proyek tanggul raksasa Jakarta (*National Capital Integrated Coastal Development*) belum sepenuhnya selesai setelah bertahun-tahun. Di daerah lain, penanaman mangrove sering gagal—abrasi terus menerjang bibit sebelum akarnya kuat.

Perubahan iklim adalah perang tak seimbang. Setiap sentimeter kenaikan air laut berarti miliaran rupiah kerugian ekonomi. Di Honduras, warga sudah merasakannya. Di Indonesia, kita belum—tapi tanda-tandanya semakin nyata. Pemerintah daerah dan pusat harus segera alokasikan anggaran lebih besar untuk melindungi desa-desa pesisir. Jika tidak, kita akan menyaksikan lebih banyak warga pesisir menjadi pengungsi iklim di negeri sendiri.

Pelajaran dari Cedeno

Kilau mentari sore menyinari laut yang tenang di depan Cedeno. Tapi ketenangan itu palsu. Setiap tahun, garis ombak semakin mendekat. Bagi José dan tetangganya, tidak ada pilihan selain pergi. Cerita mereka bukan sekadar laporan—tapi peringatan langsung bagi Indonesia, yang hidup di cincin api dan berada di garis depan perubahan iklim. Laut yang dulu memberi hidup, kini perlahan menelan hidup mereka.

(Artikel ini ditulis berdasarkan liputan visual.republika.co.id dan data Badan Informasi Geospasial serta riset independen tentang dampak perubahan iklim di Indonesia.)