Hon berbunyi di Sungai Tujuh — konvoi tiba dengan senyuman
Hon panjang terdengar di Pos Pemeriksaan Imigrasi dan Bea Cukai Sungai Tujuh pada pukul 10 pagi, 24 Mei 2026. Deretan mobil Proton berwarna-warni — Saga biru, X70 merah muda, X50 hitam mengilap — meluncur masuk ke Brunei. Roda pertama menyentuh tanah yang diberkati setelah 10 hari perjalanan dari Kota Kinabalu.
PAD Motors sudah bersiap sejak subuh. Karyawan memegang spanduk bertuliskan "Senyum Sikit Mok Nangga", balon dikocak, dan anak-anak sekolah menari di tepi jalan. Mat Naser bin Hj Ramli, 45 tahun, berdiri di barisan depan: "Saya menunggu dari Sabah. Ini bukan mobil biasa — ini surat cinta antara dua negara."
Suasana meletup ketika konvoi tiba di ECON Motors 3S di Jalan Berakas. Panggung utama dihiasi latar belakang raksasa bertuliskan tema konvoi: "Bagi Senyum Bah, Senyum Sikit Mok Nangga". Maknanya sederhana: senyuman kecil pun cukup untuk menyambut.
Tamunya termasuk wakil Kedutaan Malaysia di Bandar Seri Begawan, pegawai Kementerian Perhubungan Brunei, dan lebih dari 200 penggemar Proton dari Tutong hingga Temburong.
Bukan sekadar mobil — tapi kisah di setiap kilometer
Konvoi 10.000 sMILEs bukan acara promosi biasa. Ia program komunitas berbasis senyuman dan solidaritas — dirancang khusus untuk Tahun Melawat Malaysia 2026.
Lebih dari 50 kendaraan Proton — dari Saga generasi awal hingga X70 terbaru — berangkat dari Kota Kinabalu pada 16 Mei. Setiap pemberhentian di Sabah dan Brunei membawa aktivitas nyata: gotong-royong membersihkan pantai di Sipitang, ziarah ke Sekolah Rendah Kampung Panchor, dan sumbangan alat tulis kepada rumah yatim di Kuala Belait.
"Kami mengukur jarak bukan dalam kilometer, tapi dalam senyuman," kata pernyataan resmi PAD Motors.
Bagi Rahman bin Damit, 52 tahun, anggota klub pemilik Proton Brunei, acara ini istimewa: "Kami jarang menjadi tuan rumah. Biasanya kami yang pergi ke Malaysia. Hari ini, kami yang menjemput — dan mereka datang dengan senyuman penuh."
Dia tunjukkan stiker konvoi di cermin belakang Saga lamanya — model 2003 yang masih berjalan lancar.
Dampak nyata di pasar dan jalan raya
Konvoi ini menggerakkan lebih dari emosi. Ia memberikan tenaga ke industri otomotif lokal.
PAD Motors — satu-satunya agen Proton di Brunei — melaporkan peningkatan penjualan 15% dibandingkan 2025. Model X50 dan X70 menjadi paling laris, terutama di kalangan profesional muda di Bandar Seri Begawan.
Fasilitas ECON Motors 3S — dengan bengkel teknologi tinggi dan pusat paparan interaktif — menjadi lokasi utama servis dan pameran selama konvoi. Peningkatan trafik pelanggan selama acara mencatat lonjakan 40% dibandingkan minggu biasa.
Peserta konvoi juga menjadi duta tidak resmi Brunei. Mereka mengunjungi Masjid Omar Ali Saifuddien, berjalan di Kampong Ayer dengan perahu tradisional, dan beristirahat di Pantai Serasa. Usaha kecil di sepanjang jalur — kafe kopi, warung roti canai, homestay keluarga — mencatat peningkatan pendapatan hingga 30% dalam tiga hari.
Satu pohon, satu kilometer, satu janji
Proton tidak hanya membawa mobil — tapi juga komitmen lingkungan.
Setiap kendaraan dalam konvoi menggunakan biodiesel berkelanjutan bersertifikat RSPO. Untuk setiap kilometer yang dilalui, satu pohon ditanam. Sebanyak 10.000 pohon meranti dan cengal telah ditanam sepanjang jalur — 20 darinya kini tumbuh subur di area lapangan belakang ECON Motors 3S.
Pohon-pohon itu akan diserahkan kepada sekolah-sekolah di Brunei melalui Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Setiap pohon diberi nomor unik dan nama siswa yang ikut serta dalam penanaman.
Haji Hamidon, 63 tahun, dosen lingkungan di Universitas Brunei Darussalam, menyaksikan penanaman secara langsung: "Ini bukan gimmick. Ini pendidikan bergerak. Anak-anak nanti akan bertanya: 'Pohon saya di mana?' Dan jawabannya ada di sekolah mereka."
Lebih dari sekadar konvoi — permulaan hubungan baru
Konvoi 10.000 sMILEs adalah salah satu dari 17 program lintas batas yang direncanakan bersama oleh Kementerian Pariwisata Malaysia dan Departemen Pariwisata Brunei untuk Tahun Melawat Malaysia 2026.
Brunei tidak hanya menyambut — tetapi juga memperkenalkan. Di ECON Motors, pameran foto "Brunei Tanpa Filter" menampilkan kehidupan harian di Temburong, seni kerajinan di Tutong, dan kuliner tradisional di Belait.
Dr. Rudi, ahli pariwisata lokal, berkata: "Pandemi memutus banyak ikatan. Konvoi ini bukan hanya tentang mobil — tapi tentang memulai kembali percakapan. Kami yakin ini akan menjadi pintu masuk untuk kunjungan siswa, pertukaran wirausaha, dan kolaborasi budaya."
Acara ditutup dengan sesi foto dan foto bersama. Peserta menerima hadiah: gelas keramik bertuliskan "10.000 sMILEs", dan biji pohon meranti dalam kotak kayu ukir.
Saat konvoi meluncur keluar menuju Temburong, banyak penggemar masih berdiri di tepi jalan — mengibaskan tangan, tersenyum, dan merekam video dengan ponsel. Perjalanan belum selesai. Tapi jejaknya sudah jelas: di tanah, di hati, dan di catatan penjualan Proton Brunei.
