Pertandingan baru berjalan 25 menit, jala gawang Tunisia sudah bergetar dua kali. Herve Renard, pelatih anyar yang hanya beberapa hari duduk di bangku cadangan, hanya bisa geleng-geleng kepala. Kekalahan 0–4 dari Portugal di matchday kedua Grup F menjadi pukulan telak bagi skuad Elang Carthage. Namun, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pergantian pelatih belum membawa perubahan nyata? Berikut lima hal penting tentang situasi Tunisia di Piala Dunia 2026.
1. Dua Kekalahan Berturut-Turut dalam Dua Laga
Tunisia membuka turnamen dengan kekalahan 1–3 dari Meksiko. Meski sempat unggul lewat gol bunuh diri bek lawan, pertahanan mereka rapuh: tiga gol balasan Meksiko lahir dari kesalahan posisi dan kehilangan konsentrasi di lini belakang. Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) langsung memecat Sabri Lamouchi dan menunjuk Herve Renard — pelatih Prancis yang pernah membawa Arab Saudi menang atas Argentina di Piala Dunia 2022.
Di laga melawan Portugal, Renard menerapkan formasi tiga bek tengah untuk menahan tekanan Ronaldo dkk. Skema itu gagal total. Dua gol cepat di babak pertama meruntuhkan mental pemain. Dua gol lagi di babak kedua menutup laga dengan skor telak 0–4.
2. Pergantian Pelatih di Tengah Turnamen: Langkah Berisiko
Keputusan FTF memecat Lamouchi dinilai kontroversial. Ia membawa Tunisia lolos ke Piala Dunia 2026 tanpa kekalahan dalam kualifikasi — rekor terbaik sejak 2010. Namun, satu kekalahan di laga pembuka dianggap cukup untuk mengakhiri masa jabatannya.
Renard tiba di lokasi pertandingan hanya beberapa hari sebelum laga melawan Portugal. Ia hanya punya dua sesi latihan bersama tim. Tidak ada waktu membangun chemistry, menguji skema, atau menyesuaikan taktik dengan karakter pemain. Pengamat sepak bola Afrika menyebut langkah ini sebagai reaksi emosional, bukan strategis — dan justru memperparah ketidakstabilan tim.
3. Siapa Sebenarnya Herve Renard?
Renard dikenal sebagai pelatih spesialis tim Afrika. Ia membawa Zambia juara Piala Afrika 2012 dan Pantai Gading pada 2015. Di Arab Saudi, ia sukses membangun disiplin defensif dan serangan balik efisien — kunci kemenangan atas Argentina.
Namun, di Piala Dunia 2026, filosofi itu belum berakar. Lini belakang Tunisia — yang diisi Yassine Meriah dan Ali Abdi — masih kerap melakukan blunder individu. Di lini depan, Hannibal Mejbri, yang diharapkan menjadi pengatur serangan, tampil kehilangan arah dan minim dampak. Renard butuh waktu lebih dari dua hari untuk mengubah pola pikir dan gerak tim.
4. Gelombang Kekecewaan di Tunisia dan Perhatian Tak Terduga dari Indonesia
Di Tunisia, kekecewaan publik meluap. Media nasional seperti *Shams News* dan *Al-Chaab* menyebut performa tim sebagai “yang terburuk dalam sejarah partisipasi Tunisia di Piala Dunia”. Tagar #RenardOut sempat masuk trending di Twitter Tunisia setelah kekalahan dari Portugal. Sebagian suporter menyesali pemecatan Lamouchi yang dianggap terlalu dini dan tidak proporsional.
Di Indonesia, meski bukan tim favorit utama, Tunisia mendapat perhatian karena reputasi permainan keras dan semangat juangnya. Warganet membahas tantangan membalikkan keadaan di tengah turnamen — sekaligus mengaitkannya dengan prospek Timnas Indonesia jika kelak tampil di Piala Dunia. Diskusi berfokus pada pentingnya stabilitas manajerial, bukan sekadar pergantian nama.
5. Peluang Lolos ke Babak 16 Besar Nyaris Nol
Dengan dua kekalahan, Tunisia masih mengoleksi nol poin. Satu laga tersisa: kontra Korea Selatan di matchday ketiga. Untuk lolos, mereka harus menang dengan selisih minimal empat gol — sekaligus berharap Portugal mengalahkan Meksiko.
Secara matematis, peluang itu sangat kecil. Sejak Piala Dunia 1994, tidak ada tim yang lolos dari fase grup setelah kalah di dua laga awal. Catatan historis menunjukkan bahwa kekalahan beruntun biasanya mengindikasikan masalah struktural — bukan hanya taktik atau keberuntungan.
Bagi Renard, laga kontra Korea Selatan adalah soal harga diri. Ia ingin menunjukkan bahwa Tunisia tetap mampu bermain kompetitif. Namun, jika kembali kalah, kegagalan ini akan menjadi cerminan sistemik: keputusan manajerial yang terburu-buru, kurangnya persiapan, dan ketiadaan rencana jangka panjang.
Kisah Tunisia bukan sekadar catatan buruk di Piala Dunia 2026. Ia adalah peringatan bahwa di level tertinggi, stabilitas, persiapan mendalam, dan kebijakan berbasis data jauh lebih bernilai daripada perubahan simbolis di saat krisis.
