TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
🕌 Agama & Budaya

500 Ondel-Ondel Jakarta Akan Didandani Desainer Top — dari Lampu Merah ke Monas

Pemprov DKI Jakarta menggandeng 20 desainer ternama, termasuk Anne Avantie dan Cinta Laura, untuk merias ulang 500 ondel-ondel yang lusuh. Proyek senilai Rp 7,5 miliar dimulai Maret 2025 di Sanggar Bambu Betawi, dengan tujuan memulihkan martabat budaya Betawi sekaligus memberdayakan perajin lokal.

20 Jun 20264 minit baca7 tontonanOleh Daniel Tan Wei MingRepublika
PositifDisemak silang 2 model · 68
Baca 30 saat
  • Pemprov DKI Jakarta menggandeng 20 desainer ternama untuk merias ulang 500 ondel-ondel.
  • Proyek senilai Rp 7,5 miliar dimulai Maret 2025 di Sanggar Bambu Betawi.
  • Tujuannya adalah memulihkan martabat budaya Betawi dan memberdayakan perajin lokal.
500 Ondel-Ondel Jakarta Akan Didandani Desainer Top — dari Lampu Merah ke Monas

Gontai di Trotoar, Lusuh di Tengah Hujan Aspal

Di pertigaan dekat Pasar Senen, dua ondel-ondel berjalan gontai. Tingginya tiga meter, tapi wibawanya luntur—cat wajah mengelupas, kebaya kusam, mahkota retak. Rojak (45), pengusungnya, mengelap keringat. "Sejak pandemi, belum ganti kostum. Sekarang tarif manggung cuma cukup buat beli nasi bungkus," katanya. Pemandangan ini bukan pengecualian. Ikon Betawi yang dulu menghiasi pernikahan dan festival kini lebih sering berdiri di lampu merah, mengulurkan kotak plastik.

Tapi harapan mulai menetas. Pemprov DKI Jakarta, lewat Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, meluncurkan proyek besar: 500 ondel-ondel akan didandani desainer papan atas. "Ini bukan sekadar rias ulang. Ini renaisans — mengembalikan ondel-ondel sebagai duta budaya, bukan pengemis jalanan," kata Kepala Dinas Andi Permana dalam konferensi pers di Balai Kota, Rabu (15/1).

Dari Anne Avantie sampai Cinta Laura: Desainer yang Memilih Bambu

Daftar desainer yang terlibat bukan nama biasa. Ada Anne Avantie — sang maestro kebaya — yang memilih motif megamendung berlapis sutra daur ulang. Ada Didiet Maulana, yang menekankan fungsi: setiap jahitan harus tahan goyangan, setiap lipit harus memudahkan langkah. Dan ada Cinta Laura Kiehl, yang mengusung prinsip *lightweight heritage*: mengurangi beban tanpa mengurangi kemegahan.

Mereka bergabung dalam kelompok 20 desainer, masing-masing mendapat jatah 25 ondel-ondel. Tema utama: "Jakarta: Glokal-Santun" — perpaduan batik tambal, sulam benang emas Betawi, dan siluet kontemporer. "Saya ingin penonton bilang, 'Wah, itu ondel-ondel, tapi kok stylish banget?'. Tapi tetap bisa menari dua jam tanpa kolaps," ujar Anne.

Proses dimulai Maret 2025 di Sanggar Bambu Betawi, Jakarta Timur. Di sana, 100 perajin lokal akan bekerja bersama — penjahit, pembuat aksesori, pelukis bambu, bahkan ahli ventilasi boneka. Anggaran total: Rp 7,5 miliar, berasal dari APBD dan dukungan swasta. "Ini padat karya nyata. Bukan hanya soal busana, tapi juga soal lapangan kerja yang terukur," tegas Andi.

Ketika Boneka Raksasa Jadi Korban Zaman

Ondel-ondel bukan mainan. Ia warisan tak benda UNESCO sejak 2015 — boneka raksasa dari anyaman bambu yang dulu menjadi penjaga kampung, pengiring pengantin, dan simbol kebanggaan kota.

Namun sejak 2000-an, pamornya merosot. Akulturasi budaya, pengetatan izin tampil di ruang publik, dan stigma sosial membuatnya terpinggirkan. "Anak-anak Betawi sekarang malu menyebut ondel-ondel sebagai bagian dari identitas mereka. Mereka lebih tahu TikTok daripada tarian lenong," sesal budayawan Yahya Andi Saputra.

Data Dinas Kebudayaan DKI menunjukkan: pada 2023, hanya 1.200 ondel-ondel aktif tercatat di Jakarta — turun 60% dari 2010. Dari jumlah itu, hanya 150 yang tampil di acara resmi. Sisanya: properti foto di mal, atau pengamen lampu merah.

"Kami ingin membalik narasi itu. Ondel-ondel bukan hiburan murahan. Ia adalah arsip hidup Jakarta," kata Andi.

Rias Ulang yang Tak Mengkhianati Tubuh Penari

Merias ondel-ondel bukan soal tempel-stiker. Tim desainer melakukan riset ergonomi selama tiga bulan. Beban ondel-ondel dewasa mencapai 50 kg — beratnya setara dua orang dewasa. Maka, bahu penyangga direkayasa ulang agar tekanan tersebar merata. Ventilasi dibuat di dada dan punggung. Lubang mata dipasang kaca anti-kabut.

Materialnya pun dipilih ketat: cat berbasis daun jati dan kunyit, kain tenun daur ulang dari limbah garmen, serta anyaman bambu terbarukan dari Bogor. Setiap ondel-ondel juga dapat identitas unik — nama, nomor seri, dan cerita di balik motifnya. Ada yang bernama *Si Jago*, bertema Pasar Baru dengan motif keranjang dan kain perca. Ada pula *Emas Monas*, berlapis serbuk emas daur ulang dan motif ornamen pilar.

"Ini bukan sekadar boneka baru. Ini ekosistem: desainer, penjahit, pedagang suvenir, bahkan guru seni yang akan mengajar anak-anak cara membuat miniatur ondel-ondel dari kardus bekas," jelas Didiet.

Ondel-Ondel Glamor, dan Harapan yang Lebih Ringan

Komunitas Ondel-Ondel Betawi Jakarta (OOBJ) sudah menyiapkan gelaran perdana: festival "Ondel-Ondel Glamor" Agustus 2025 di Taman Ismail Marzuki. Semua 500 boneka akan tampil bersama — bukan dalam formasi statis, tapi dalam tarian kolosal berdurasi 25 menit.

Sementara itu, di pinggir jalan, Rojak membuka ponselnya. Ia menunjukkan berita ini pada rekannya. "Kalau ondel-ondel saya didandani Anne Avantie, mungkin tarif naik jadi Rp 500 ribu. Anak saya bisa beli sepatu sekolah baru," katanya, tersenyum.

Bagi Jakarta, proyek ini bukan soal estetika semata. Ia adalah upaya memulihkan denyut budaya di tengah beton dan kecepatan. Saat nanti ondel-ondel dengan kebaya encim berlapis songket modern melenggang di Ancol atau Monas, kota ini akan kembali mendengar: *Ondel-ondel ade ndel-ndel* — ia bukan boneka. Ia jiwa Betawi yang tak lekang zaman.