TAJUK: Indonesia Produsen Beras Terbesar di Asia Tenggara, Keempat Dunia
RINGKASAN: Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan produksi beras Indonesia mencapai 54,2 juta ton pada 2024 — tertinggi di Asia Tenggara dan peringkat keempat global setelah China, India, dan Bangladesh. Capaian ini diraih meski menghadapi tekanan perubahan iklim dan konversi lahan. Ketahanan pangan nasional memang menguat, tetapi distribusi tidak merata dan kesejahteraan petani masih jadi tantangan nyata.
KANDUNGAN:
Di sawah Desa Sukamaju, Jawa Tengah, Pak Karto mengangkat tangkai padi yang berat dengan bulir kuning keemasan. Ia menggenggamnya, lalu tersenyum. "Musim ini panennya bagus, hujan cukup. Alhamdulillah," katanya. Pemandangan serupa terjadi dari Aceh hingga Sulawesi Selatan — bukan sekadar simbol, tapi bukti langsung dari angka resmi: produksi beras Indonesia mencapai rekor tertinggi di Asia Tenggara dan menembus peringkat keempat dunia.Menurut Bapanas yang mengacu pada data FAO, Indonesia memproduksi 54,2 juta ton beras pada 2024 — naik dari 53,6 juta ton tahun sebelumnya. Angka ini mengungguli Vietnam, Thailand, dan Myanmar. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyebut keberhasilan ini didorong tiga pilar: peningkatan produktivitas, distribusi benih unggul, dan perluasan areal tanam.
Panen Raya di Tengah Tantangan Iklim
El Niño tahun lalu memicu kemarau panjang di sejumlah daerah. Di Sukamaju, Pak Karto harus memasang pompa air tambahan. Namun sistem irigasi yang diperbaiki dan varietas padi tahan kering membantu menjaga hasil. "Dulu kalau kemarau begini, gagal panen. Sekarang ada bantuan pompa dan benih baru, hasilnya lebih terjamin," ujarnya sambil memperbaiki jaring burung di pematang.
Ancaman lain tetap nyata: konversi lahan pertanian. Setiap tahun, sekitar 100.000 hektar sawah beralih fungsi menjadi kawasan industri atau perumahan. Meski begitu, program cetak sawah baru berhasil mempertahankan luas baku sawah nasional di atas 7,1 juta hektar.
Angka FAO dan Maknanya
Secara global, China tetap juara dengan 209 juta ton, diikuti India (191 juta ton) dan Bangladesh (57 juta ton). Indonesia kini berada di posisi keempat — menggeser Thailand ke peringkat kelima. Vietnam, mantan eksportir utama, hanya memproduksi 26 juta ton.
"Pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri secara mandiri. Ini penting untuk stabilitas pangan nasional," kata Direktur Jenderal Ketahanan Pangan Agung Hendriadi. Impor beras pada 2024 turun drastis menjadi hanya 1,2 juta ton — sebagian besar untuk stabilisasi harga dan kebutuhan khusus.
Dari Sawah ke Meja: Masih Ada Pekerjaan Rumah
Produksi melimpah belum berarti kesejahteraan merata. Harga gabah di tingkat petani kerap anjlok saat panen raya. "Harga gabah di sini kadang jatuh sampai Rp4.000 per kilogram, padahal untung kalau Rp5.000. Biaya produksi naik terus," keluh Pak Karto.
Distribusi juga timpang. Di sentra produksi, beras melimpah. Di Papua dan Maluku, harga bisa menyentuh Rp15.000 per kilogram akibat ongkos angkut yang mahal. Untuk itu, pemerintah memperkuat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta peran Bulog dalam menyerap gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Optimisme di Ujung Musim Panen
Meski pekerjaan rumah masih banyak, target ke depan jelas: meningkatkan produksi menjadi 55 juta ton pada 2025 lewat inovasi budidaya dan digitalisasi pertanian, kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.
Pak Karto sudah mulai membajak lahan untuk musim tanam berikutnya. Ia akan mencoba benih inbrida tahan hama. "Semoga ke depannya harga gabah lebih baik, supaya kami petani juga sejahtera," ucapnya sambil melangkah pulang, sekam masih melekat di telapak tangannya. Sawah Sukamaju — dan jutaan hektar lainnya — adalah nadi ketahanan pangan yang terus berdenyut.