Iran Menanggapi Ancaman Trump: 'Angkatan Tentera Kami Siap'
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberi peringatan keras kepada Amerika Serikat dalam sidang parlemen pada hari Minggu: "Angkatan tentera kami siap untuk bertindak balas." Pernyataan ini muncul setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam konferensi persamaan โ tanpa menyertakan bukti atau rencana tindakan โ yang menuduh Iran mendukung Hizbullah di Lebanon dan mengancam akan "menghancurkan Iran dengan sangat keras lagi".
"Jangan mereka berpikir jika ancaman mereka memiliki dampak, mereka tidak akan berada dalam situasi terdesak seperti hari ini? Kami tidak memperhatikan ancaman Amerika," kata Ghalibaf. Ucapan tersebut disambut tepuk tangan oleh para wakil parlemen, mencerminkan sikap teguh terhadap tekanan luar.
Ketegangan Berulang, Bukan Krisis Baru
Ancaman Trump bukanlah awal dari ketegangan, tetapi episode terbaru dalam hubungan yang bermusuhan sejak Revolusi Iran 1979. Hubungan memburuk setelah AS mundur dari Perjanjian Nuklear Iran (JCPOA) pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi luas. Sebagai respons, Iran meningkatkan pengayaan uranium melebihi batas JCPOA dan memperluas program rudalnya.
Insiden seperti pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh pasukan AS di Baghdad pada Januari 2020 juga memperdalam keyakinan Tehran bahwa Washington bersedia menggunakan kekuatan militer secara unilateral. Namun, tidak ada bukti bahwa ancaman terbaru Trump didukung oleh persiapan operasi militer nyata โ tetap berada pada tingkat retorika.
Kekuatan Nyata, Tekanan Nyata
Iran memiliki angkatan tentera besar dengan pengalaman tempur selama beberapa dekade, termasuk Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) yang aktif dalam operasi regional dan memiliki jaringan sekutu seperti Hizbullah serta kelompok bersenjata di Irak dan Yaman. Program rudalnya โ terutama rudal balistik berperingkat โ menjadi komponen utama strategi pencegahan Tehran.
Namun, kekuatan militer tidak menghilangkan kelemahan struktural. Ekonomi Iran terpuruk akibat sanksi AS: inflasi tahunan melebihi 40%, tingkat pengangguran resmi hampir 10% (dan jauh lebih tinggi di kalangan pemuda), serta nilai rial turun lebih dari 90% sejak 2018. Ghalibaf sendiri mengakui tantangan ini dalam pidatonya, tetapi menekankan ketahanan melalui pengalaman Perang Iran-Irak (1980โ1988): "Kami telah melewati ujian yang lebih sulit, dan kami akan terus bertahan."
Di pihak AS, retorika keras Trump muncul dalam konteks politik domestik โ pemilihan presiden 2024 sedang berlangsung โ dan tidak disertai dengan pengumuman baru tentang penempatan militer, sanksi tambahan, atau perubahan doktrin keamanan. Analis menilai ancaman ini sebagai upaya memperkuat posisi tawar-menawar, bukan langkah menuju konflik terbuka.
Gangguan Minyak, Risiko Regional
Ketegangan segera memengaruhi pasar energi global. Harga minyak Brent naik lebih dari $3 per barel dalam sehari, mencapai $85,40 per barel pada Senin, didorong oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz โ jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Iran pernah mengancam menutup selat itu dalam situasi konflik, meskipun pelaksanaannya teknis dan diplomatik kompleks.
Negara-negara importir utama seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan โ yang bergantung pada minyak Timur Tengah โ meningkatkan pemantauan risiko. Tiongkok, pembeli minyak Iran terbesar di bawah sanksi AS, telah mempertahankan perdagangan melalui mekanisme pembayaran alternatif dan kapal pengangkut tanpa identitas jelas.
Di kawasan itu sendiri, ketegangan antara Tehran dan Washington memperdalam ketidakstabilan di Lebanon. Hizbullah, yang menerima dukungan militer dan pelatihan dari IRGC sejak 1980-an, tetap menjadi faktor penstabil dan penyebab ketegangan sekaligus โ terutama dalam konflik Israel-Lebanon. Namun, tidak ada tanda-tanda peningkatan serangan lintas perbatasan atau eskalasi langsung antara Iran dan Israel saat ini.
Ruang untuk Diplomasi Masih Terbuka
Meski retorika memanas, saluran diplomatik belum sepenuhnya tertutup. Pihak Iran masih terlibat dalam perundingan tidak langsung dengan AS di Oman dan Qatar mengenai isu nuklir dan tahanan. Trump sendiri, dalam pernyataan setelahnya, tidak menolak dialog โ tetapi tidak menyebut syarat atau jadwal.
Bagi Tehran, kelegaan sanksi tetap menjadi prioritas utama. Bagi Washington, tekanan terhadap program nuklir dan aktivitas regional Iran tetap menjadi tujuan dasar. Kedua belah pihak kini berada dalam fase uji kesabaran: Iran menguji sejauh mana AS sanggup menanggung biaya ekonomi dan geopolitik dari sanksi yang terus berlangsung; AS menguji apakah Iran bersedia berunding tanpa prasyarat militer.
Tanpa kemajuan nyata dalam perundingan, ketegangan akan tetap tinggi โ cukup untuk mengganggu pasar dan memperkuat sekutu proksi, tetapi belum cukup untuk memicu konflik skala penuh.