TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin • 📖 Hari Ini Dalam Sejarah Dunia •
Artikel ini adalah terjemahan AI dari bahasa asal.
📖 Sejarah Hari Ini

21 Juni 1788: New Hampshire Mengesahkan Konstitusi AS — Negeri Kedelapan yang Memulai Pemerintahan Federal

Pada 21 Juni 1788, New Hampshire menjadi negara kedelapan—dan penentu—yang mengesahkan Konstitusi Amerika Serikat. Dengan pengesahannya, jumlah negara yang setuju mencapai sembilan, memenuhi syarat minimum untuk dokumen itu berlaku. Peristiwa ini menandai awal pemerintahan federal modern dan menggantikan sistem lemah di bawah Artikel Konfederasi.

21 Jun 20263 minit baca36 tontonanOleh Redaksi MeridianWikipedia / Meridian Sejarah
PositifDisemak silang 2 model · 62
Baca 30 saat
  • New Hampshire menjadi negeri kelapan yang mengesahkan Perlembagaan AS pada 21 Jun 1788
  • Pengesahan ini memenuhi syarat minimum untuk dokumen itu berkuat kuasa
  • Perlembagaan membuka jalan kepada penubuhan kerajaan persekutuan yang terpusat
21 Juni 1788: New Hampshire Mengesahkan Konstitusi AS — Negeri Kedelapan yang Memulai Pemerintahan Federal

Imej: Imej: Tom Morgan (CC0) via Openverse

New Hampshire: Negeri Penentu Pengesahan Konstitusi

Pada 21 Juni 1788, New Hampshire menjadi negara kedelapan yang mengesahkan Konstitusi Amerika Serikat. Keputusan itu bukan sekadar angka simbolis—ia adalah titik balik sejarah. Konstitusi memerlukan persetujuan dari sekurang-kurangnya sembilan dari tiga belas negara untuk berlaku. Dengan dukungan New Hampshire, jumlah negara yang setuju mencapai sembilan. Dokumen itu pun sah berlaku, membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan federal yang terpusat, struktural, dan berwibawa.

Konstitusi sendiri lahir dari Konvensi Philadelphia pada Mei hingga September 1787. Ia dirancang untuk menggantikan Artikel Konfederasi—kerangka pemerintahan pertama negara itu—yang gagal memberi kekuasaan cukup kepada pemerintah pusat untuk mengelola keuangan, keamanan, atau persatuan antar negara. New Hampshire tidak hanya ikut serta dalam proses ini sebagai peserta pasif; delegasinya turut berkontribusi dalam diskusi kritis tentang keseimbangan kekuasaan antara negara bagian dan federal.

Tantangan Sebelum Pengesahan

Akhir 1780-an adalah masa ketegangan. Setelah kemenangan Revolusi Amerika, negara menghadapi inflasi tinggi, utang besar, ketidakpercayaan antar negara, dan kelemahan dalam menjalankan hukum atau mengumpulkan pajak. Artikel Konfederasi tidak memungkinkan Kongres mengenakan pajak langsung atau mengatur perdagangan antar negara—kelemahan yang nyata saat krisis ekonomi melanda.

New Hampshire, meskipun kecil, bukanlah negara netral. Motto-nya *Live Free or Die*, yang diadopsi pada 1776, mencerminkan sikap keras terhadap otonomi dan prinsip republikan. Namun, banyak penduduknya awalnya ragu-ragu terhadap Konstitusi, khawatir akan melemahkan kedaulatan negara bagian. Perdebatan di konvensi negara pada Februari–Juni 1788 berlangsung sengit—dan berakhir dengan mayoritas tipis: 57 suara dibanding 46.

Delegasi yang Membujuk, Bukan Sekadar Menandatangani

John Langdon, mantan gubernur dan salah satu delegasi New Hampshire ke Konvensi Philadelphia, memainkan peran utama dalam kampanye pengesahan. Ia tidak hanya hadir di Philadelphia, tetapi juga aktif dalam forum lokal, menjelaskan mekanisme Konstitusi dan menekankan pentingnya sistem yang mampu bertindak tegas tanpa mengorbankan hak asasi.

William Plumer dan Nicholas Gilman juga berkontribusi secara strategis. Plumer, yang kemudian menjadi senator dan gubernur, menggunakan tulisan dan pidato untuk mengatasi kekhawatiran rakyat mengenai kekuasaan pengadilan dan kurangnya Bill of Rights. Gilman, di sisi lain, membantu menyusun kompromi antara faksi pro dan anti-Konstitusi—termasuk janji untuk mengajukan amandemen hak asasi segera setelah pemerintahan baru beroperasi.

Warisan yang Masih Berakar Hari Ini

Pengesahan New Hampshire bukan hanya langkah teknis. Ia menetapkan preceden bahwa negara kecil bisa menjadi penentu arah sejarah nasional. Dalam praktik politik kontemporer, New Hampshire tetap memegang posisi unik: negara ini mengadakan *presidential primary* pertama setiap empat tahun—sebuah tradisi yang dimulai pada 1916 dan diakui secara resmi oleh partai utama sejak 1920-an. Posisi ini bukan kebetulan; ia akar dari budaya partisipasi publik dan keyakinan terhadap suara rakyat—nilai yang diperjuangkan sejak zaman pengesahan Konstitusi.

Motto *Live Free or Die* hari ini bukan hanya slogan sejarah. Ia tertulis dalam identitas hukum negara, kebijakan pajak rendah, dan pendekatan hati-hati terhadap campur tangan federal. Warisan New Hampshire bukan tentang menolak pemerintahan—tetapi tentang menuntut pemerintahan yang bertanggung jawab, terbatas, dan berakar pada persetujuan sukarela.

Pengesahan Bukan Akhir, Tetapi Permulaan

21 Juni 1788 bukan tanggal penutupan proses pembentukan negara—malah sebaliknya. Ia adalah awal kerja keras: membangun institusi, menafsirkan teks, menyeimbangkan kekuasaan, dan memperluas makna 'kebebasan' dan 'persamaan'. New Hampshire tidak hanya menandatangani dokumen; ia memilih untuk terus berdialog dengannya—warisan yang masih hidup dalam setiap pemilihan, undang-undang negara bagian, dan debat publik di sana.